[BAB 2: Honda, Paket Daging ke Empat]

 

Setelah lulus kuliah, Sota dituntut untuk mendapatkan pekerjaan. Namun karna pesaing yang lebih banyak daripada buih dilautan, Sota tidak berhasil masuk ke perusahaan. Tidak perlu mengatakan yang besar, yang kecilpun menolak lamarannya. 

Enam bulan menganggur membuat telinga Sota hampir rusak karna terus mendengar sindiran keluarganya. Terutama kakak-kakaknya. Faktanya mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah karena kondisi keuangan yang pas-pasan. Kemudian tiba giliran Sota, mereka bekerja sama mengumpulkan biaya agar Sota bisa fokus kuliah.

Memikul harapan keluarga menjadi beban berat untuknya. Bukannya Sota tidak bersyukur sudah dibiayai kuliah dengan sepenuh hati, tapi otaknya tidak secanggih itu hingga bisa memenuhi harapan mereka. Bukan berarti Sota tidak cukup berusaha. 

Dulu dia pikir akan baik masuk kuliah, namun dipertengahan jalan, dia mulai terbebani dengan harapan dan harapan keluarganya. Dia hanya ingin mengatakan, kenapa hanya karna dia yang paling kecil dan laki-laki, mereka memilihnya untuk menanggung harapan keluarga. Padahal jelas otak Naya lebih maju dibanding dengan otaknya yang pas-pasan dan langsung konslet ketika dipaksa belajar mengikuti tuntutan teman-teman jeniusnya.

Lalu, setelah enam bulan menganggur dan hampir sekarat, Sota mendapatkan pekerjaan disebuah konbini 24 jam. Shift kerja dari pukul tujuh pagi hingga pukul tiga sore. Libur empat kali dalam sebulan. Gaji lumayan jika dibandingkan dengan tidak bekerja. Dan Sota mensyukuri dia memiliki alasan ke luar rumah dan tidak mendengarkan celotehan yang menyakiti telinga. 

“Ini mengerikan. Bagaimana bisa ada orang yang mampu menjadikan manusia sebagai paket daging?” Gerutu Ritsuki, teman satu shift Sota. 

“Apa?” Sota yang baru selesai membereskan salah satu rak menghampiri temannya.

“lihat, paket daging itu ditemukan lagi didepan rumah keluarga Honda. Itu seharusnya menjadi anggota keluarga mereka yang hilang seminggu yang lalu kan? Honda Isamu.” Ucap Ritsuki sembari menunjuk ke arah tv.

Jantung Sota tanpa sadar berdegup tak nyaman. Dia menatap berita di tv dengan seksama. Semakin kesini dia semakin merasa aneh dengan kasus yang sudah cukup lama ini. Rasanya ada sesuatu yang seharusnya dia ingat. Tapi dia tidak bisa mengingatnya, kecuali jika dia mengenal orang-orang yang dikirim pulang sebagai paket daging itu.

‘…ini adalah keempat kalinya sebuah keluarga menerima paket daging yang merupakan anggota keluarga mereka. sejauh ini polisi belum memberikan banyak keterangan. Hanya menghimbau agar setiap orang berhati-hati. Akan lebih baik jika tidak bepergian sendirian di malam hari…’

Empat kali. Sota mengernyitkan dahinya. Dia mengenal dua orang terakhir, tapi dia belum tahu dua orang korban pertama. Mungkinkah dia juga mengenal mereka? 

“Siapa korban paket daging pertama dan kedua?” Tanya Sota untuk memastikan.

“Eh? Bagaimana kau bisa tidak tahu berita yang begitu besar ini?” Ritsuki menatap Sota dengan raut tak percaya.

“Daripada berkomentar, lebih baik katakan saja.” Sota mengulurkan tangannya menyeberang meja dan menjitak kepala Ritsuki.

“Bicara hanya dengan mulut.” Keluh Ritsuki sembari mengusap kepalanya. Tapi kemudian dia hanya menjelaskan ketika melihat pelototan Sota. “Korban yang menjadi paket daging pertama adalah Hirota Masaki. Itu sekitar empat bulan lalu. Kemudian sekitar tiga bulan yang lalu paket daging berikutnya datang, dia Toyama Genji.”

Sota terdiam sebentar. Setelah beberapa saat dia berkata dengan sedikit bingung. “Ini terdengar seperti kasus pembunuhan berantai kan?”

“Ya. Polisi juga mengatakan seperti itu karna cara membunuh dan mengirim paket daging adalah sama. Ah aku sungguh ingin mendengar analisis penyelidikan kepolisian.” 

“Bahkan ketika kasus berakhir, belum tentu mereka menjabarkan proses penyelidikan mereka dengan detil. Jangan bermimpi.” Cibir Sota yang membuat Ritsuki menggeram jengkel.

Ritsuki ini penggemar segala jenis cerita berbau detektif. Dan terkadang dia memikirkan kasus sederhana secara berlebihan. Bertingkah mencontoh tokoh dari cerita yang digemarinya itu. Tapi, tentu saja kasus paket daging tidak bisa dikatakan sederhana. Itu hanya menakutkan.

“Tapi, kenapa seperti ada bagian yang kosong? Paket dikirim sekitar empat bulan lalu, kemudian sekitar tiga bulan lalu. Dua bulan yang lalu tidak ada kejadian. Dan tiga minggu yang lalu paket daging ke tiga datang. Terakhir Honda Isamu. Bukankah itu seperti ada ruang kosong?”

Ritsuki tertawa. Biasanya Sota tidak terlalu peduli hal-hal diluar lingkarannya. Namun kali ini temannya itu terlihat antusias. Seolah mereka berdua telah memiliki hobi yang sama selama bertahun-tahun.

“Ya. Polisi belum mengeluarkan statement apapun tentang hal ini. Bahkan belum mengatakan secara resmi bahwa kasus ini merupakan pembunuhan berantai. Hanya menghimbau agar orang-orang berhati-hati. Tapi surat kabar tak pernah kehilangan berita menghebohkan kan? Dan aku sebagai keturunan detektif Holmes dengan mudah mengatakan tidak ada ruang kosong.”

Sota menyipitkan matanya menatap Ritsuki. Meski pernyataannya terlihat mengagumkan, bagaimana dia bisa mempercayainya? Dia hanyalah anak baru lulus kuliah sepertinya. Dan itu jurusan sastra. Apa yang bisa diharapkan dari analisisnya?

Seharusnya seperti itu. Tapi kenyataannya, setiap kali Sota terpaksa mendengarkan analisisnya, itu akan menjadi hal yang tidak jauh dari kebenaran. Tepatnya selalu memiliki hasil akhir yang sama dengan tindakan polisi. Meski tetap saja memiliki beberapa kegagalan, itu tidak bisa dikatakan karna analisis berasal dari mahasiswa jurusan sastra yang tidak kompeten dibidang itu.

“Bagaimana bisa dikatakan tidak ada ruang kosong?” Tanya Sota. Akhirnya dia hanya bisa mengandalkan analisis bocah ini karna tidak mungkin menanyakannya pada polisi.

“Ingat kasus seorang yang pulang dalam keadaan terikat dan kedua bola matanya dilepas dua bulan lalu?” Tanya Ritsuki dengan wajah serius. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sota untuk membuat hal-hal menjadi dramatis.

“Tidak ingat ada yang seperti itu?”

Seketika majalah tebal mendarat di kepala Sota karena jawabannya. Wajah serius Ritsuki berubah menjadi muram. Pria yang lebih tinggi dua centi meter dibandingkan Sota itu bersidekap dengan wajah tak senang.

“Bagaimana kau tidak mengetahui perkembangan dunia luar? Apa gunanya tv dan koran lalu…”

“bisakah hanya jelaskan kenapa tanpa mencerewetiku?” potong Sota. 

Dia tahu dirinya kurang kepedulian pada lingkungan. Ketidaksengajaannya melihat dua korban paket daging memberinya perasaan tidak nyaman karna dia mengenal mereka lalu dari Ritsuki dia tahu dua korban paket daging lainnya dan semakin tidak nyaman karna benar-benar mengenal mereka.

“Ini berkaitan dengan cerita untuk menakut-nakuti anak kecil yang cukup populer. Paket daging dan bola mata. Bukankah itu familier?”

Pertanyaan Ritsuki membuat Sota berpikir sejenak kemudian mengangguk. Dia juga tahu cerita bohong itu.

“Ya, mungkin perasaan tuan Kayyas sedang senang hingga mengijinkan  Takahasi Jurou kembali pulang hanya dalam keadaan buta.”

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!